MASA DEPAN MIGAS RIAU


Permasalahan masa depan Migas Riau menjadi tema utama dalam Seminar Nasional Teknologi dan Migas di Fakultas Teknik Universitas Riau. Seminar ini taja oleh Chemical Enginering Department  yang berlangsung pada tanggal 17/09/2016. Bapak Ir. Ahmiyul Rauf selaku Direktur Operasional PT Sarana Pembangunan Riau  di daulat oleh Kampus Universitas Riau sebagai Narasumber dalam seminar ini.

Pada intinya Bapak Ir. Ahmiyul Rauf menyampaikan secara ringkas sejarah penemuan dan produksi migas di Riau dari dulu hingga sekarang serta memberikan gambaran tentang Prospek  dan Potensi migas Riau yang menurut  beliau masih sangat Prospektif.  dalam pemaparanya  Bapak Ir. Ahmiyul Rauf menunjukkan sebaran ladang minyak di Provonsi Riau, mulai dari ladang minyak kota batak yang terletak di kota  Kampar,  Ladang Minas di Siak Indapura, Ladang minyak duri di kabupaten  Bengkalis, ladang minyak bangko di Kabupaten  Rokan Hilir serta ratusan ladang minyak lainya  yang lebih kecil cadangannya.

Bapak  Ir. Ahmiyul  Rauf menekankan pentingnya penyikapan yang optimistis  bahwa minyak di Provinsi Riau masih sangat menjajikan  dan akan tetap menjadi tulang punggung perekonomian  Riau sampai  berpuluh tahun kedepan,  dalam uraiannya  dasar-dasar praktek eksploitasi minyak yang pada awalnya di mulai dengan fase primary  recovery, untuk selanjutnya masuk dalam tahap secondary recavre dan terakhir tahap Tertiary  recovery, yang setiap tahapnya akan menguras cadangan  antara 10 sampai dengan 30% sehingga pada akhir tahap Tertiary  recovery masih akan  bersisa paling tidak 25% dari total  cadangan, artinya cadangan minyak Riau tetap bisa diproduksi sampai pada tahap-tahap Tertiary  recovery yang setiap tahap di butuhkan teknologi.

Beliau memberikan contoh ladang minyak Minas yang telah mulai di produksi pada tahun 1952 yang memasuki tahap Tertiary  recovery sampai sekarang  masih berproduksi lebih kurnang 50.000 bpd. Dengan cara menginjeksikan bahan kimia padahal sebelum-sebelumnya produksi perhari minyak Minas pernah mencapai 400.000 Bpd dan terus menurun selama 30 tahun sebelum memasuki tahan Tertiary  recovery pada tahun 2012. Penerapan teknologi injeksi bahan kimia baru dalam tahap percobaan yang kalau percobaanya berhasil produksi ladang minyak Minas bisa di genjot agar bisa mencapai 100.000bpd  dalam kurun waktu yang lama melampawi batas waktu kontrak Rokan blok berakhir pada tahun 2021.

Narasumber  Bapak Ir. Ahmiyul Rauf lebih jauh menjelaskan tentang cara kerja injeksi bahan kimia dalam rangka menaikan produksi minyak pada tahap  Tertiary  recovery beliau optimis bahwa bahan kimia yang di injeksi berupa surfaktan yang bekerja seperti bahan detergen akan menjadi lapangan  yang terbuka luas bagi rist-riset di perguruan tinggi terutama di Fakultas Teknik Kimia oleh sebab itu beliau menyerukan kepada segenap mahasiswa Teknik Kimia yang hadir pada seminar tesebut yang berasal dari Universitas seluruh Sumatra agar benar-benar menekuni bidang penelitian surfaktan sehinga tidak  ada alasan untuk pesimis tentang peran para Ahli Kimia dalam lapangan pekerjaan migas pada masa yang kan datang terutama di Riau. Beliau  juga menggambarkan Teknologi Injeksi Uap di lapangan minyak Duri yang penerapannya  telah berhasil meninggatkan produksi minyak Duri dari rata-rata 40.000 bpd dalam kurun waktu 20 tahun sejak tahun 1960 meninggat menjadi rata-rata 250.000 bpd pada kurun waktu 1990 sampai dengan sekarang. Beliau ingin meyakinkan bahwa TeknologiI injeksi Uap maupun bahan kimia pada ladang-ladang minyak lainya pada  masa datang pasti bisa  mempertahankan produksi minyak Riau setelah masa kontrak Rokan blok habis pada 2021 pada kisaran  300.000 bpd.

Terakhir Bapak Ir. Ahmiyul  Rauf memaparkan tentang ladang minyak Langgak yang telah di oprasikan oleh anak perusahaan PT Sarana Pembanguna Riau  yaitu SPR Langgak  sejak tahun 2010 ladang minyak ini di opraskan oleh  SPR Langgak  setelah alih kelola dari PT Chevron Pacific Indonesia  pada tahun 2010. PT  SPR Langgak  dalm masa 5 tahun operasi  berhsil mempertahankan produksi rata-rata   ladang minyak  langgak rata-rata   550 bpd  yaitu lebih tinggi dari produksi alih kelola (350 bpd) beliau menunjukan berbagai snapshot operasi lapangan minyak langgak  yang kesemua pekerjanya adalah putra-putra Indonesia mulai dari jajaran Teknisi  sampai Tenaga  Ahli serta pimpinan perusahaan keseluruhannya berpengalaman di tingkat nasional dan internasional dengan prestasi ini PT SPR Langgak  telah membuktikan keandalanya dalam mengoprasikan ladang  minyak tua walauapun kecil tetapi sangat besar maknanya,  karna prestasi ini adalah modal utama PT SPR sebagai BUMD milik Pemerintah  Provinsi  Riau, Milik orang  Riau dalam rangka mendapatkan ladang-ladang   minyak lainya yang  sudah tua yang satu masa nanti akan lepas karna habis masa kontrak dari perusahan yang sekarang menaji operator di  berbagai wilayah kerja termsuk wilahyah kerja Rokan blok.

Walaupun PT Sarana Pembangunan Riau  adalah perusahaan kecil, sebagai Direktur Oprasional   Bapak Ir.  Ahmiyul  Rauf yakin kalau di beri kesempatan mengelola blok-blok  yang lebih besar dengan di dukung oleh tenaga-tenaga terbaik  putra putri  Indonesia yang berpengalaman tidak kalah prestasinya dari perusahan besar.